Ataukah kalimat itu sengaja Pak Ahmad ucapkan sebagai bentuk sindiran atas sikap dan perbuatan yang telah kulakukan pada beliau. Satu minggu sudah kami menjalani pembelajaran bersama Pak Ahmad. Kemarin, kami ulangan Bahasa Indonesia materi puisi. Hari ini nilai ulangan akan dibagikan Pak Ahmad. “Anak-anak, selamat untuk usahanya dalam mengerjakan ulangan Bahasa Indonesia. Terima kasih telah mengerjakan ulangan dengan jujur. Bapak bangga kepada kalian. Usaha, doa, dan kejujuran adalah kunci keberhasilan kalian. Bagi yang nilainya masih kurang, kita berusaha lebih giat lagi ya. Kita berjuang bersama. Sekarang Bapak bagikan hasil ulangan kalian ya.” Pak Ahmad memanggil nama siswa satu per satu. Para siswa maju ke depan mengambil hasil ulangan mereka. Ekspresi wajah mereka beragam. Tapi rata-rata sepertinya menampakkan wajah yang ceria. Satu hal yang menjadi ciri khas Pak Ahmad adalah Pak Ahmad selalu menuliskan kata-kata motivasi di kertas ulangan setiap anak sesuai dengan kondisi hasil ulangan anak. “Fahri, maaf ya. Kertas ulangan Fahri sepertinya tertinggal di meja bapak di kantor. Saat pulang sekolah, ambil di meja bapak ya.” Aku menjawab acuh ucapan Pak Ahmad. Anak-anak yang lain sibuk bercengkerama terkait hasil ulangan mereka. Satu sama lain saling memperlihatkan nilai mereka. Pak Ahmad kemudian mengalihkan perhatian siswa dengan membacakan puisi yang ia buat . Anak-anakku…
Aku disini untuk melihat senyummu
Senyum atas semangat yang engkau ukir tanpa kelu
Senyum untuk langkah yang kau cipta tanpa ragu
Wahai mutiara yang indah Kalian tercipta begitu indah
Menjadi penyemangat raga untuk terus bersama
Merangkai asa menggapai cita
Semua siswa bertepuk tangan untuk karya yang telah tercipta. Karya yang mengalir dari sebuah rasa. Ada cinta yang besar terlukis di hatinya. Ada ketulusan yang mengalir dari lakunya. Semua mengalir begitu derasnya, memberikan energi positif untuk para siswanya. Ada juga yang meneteskan airmatanya. Yah, semua merasakan cinta itu. Semua merasakan ketulusan itu. Hingga tangis haru mengalir tanpa disadari. Hati yang sekeras batu sepertiku pun sempat terpecah belah menahan dentuman asa dari sang guru. Pagar keangkuhan jiwa berusaha menepis setiap rasa yang mengalir, membelenggu hati dalam sudut gelap tak bernyawa.