You are currently viewing Sepatu Tua Pak Ahmad

Sepatu Tua Pak Ahmad

Tapi inilah aku, seorang Fahri, anak pengusaha kaya raya di kota ini. Tidak ada yang kutakuti, termasuk guru-guruku. Apapun kesalahanku, ayahku pasti akan membelaku. Itu yang membuatku tidak pernah takut berkelahi dengan siswa manapun atau bersikap kurang baik ke guru. Sejujurnya kuakui bahwa cara mengajar Pak Ahmad sangatlah baik, tidak membosankan. Siswa pun sering diajak berdiskusi terkait pelajaran dan hal-hal yang mereka ingin lakukan pada pembelajaran. Pak Ahmad pun aktif menanyakan kesulitan yang dialami siswa sehingga ia bersama siswa menemukan solusi bersama agar lebih memahami pelajaran yang diberikan. Pelajaran hari ini dimulai. Pak Ahmad mengajarkan pelajaran matematika terkait dengan penjumlahan pecahan dengan penyebut berbeda. Aku sama sekali tidak tertarik dengan pelajaran Pak Ahmad, lebih tepatnya tidak tertarik untuk belajar. Kuputar otakku agar dapat keluar dari kelas dan menghirup udara bebas. “ Pak, permisi ke WC,” ucapku seketika ketika ide tersebut muncul di otakku. “ Iya, silahkan!” Aku pun tidak menyia-nyiakan peluang ini. Uang didompet segera kupindahkan ke saku celanaku. Aku berniat bolos dengan meloncati pagar belakang sekolah. Rencananya aku akan pergi ke rental Play Station untuk bermain di sana. Tidak mungkin aku pulang pada saat jam seperti ini. Tiga puluh menit berlalu. Aku melihat suara sepatu khas Pak Ahmad mendekati rental Play Station. Aku segera menemui penjaga Play Station dan memberikan uang kepadanya agar tidak mengatakan keberadaanku. Aku pun segera bersembunyi. Dari persembunyianku, aku masih bisa mengintip Pak Ahmad dari kejauhan. Kudengar suara langkah sepatu semakin mendekat. Ya, benar itu Pak Ahmad. Pak Ahmad bertanya kepada penjaga Play Station apakah melihat anak dengan ciri yang ia sebutkan. Tentu saja penjaga Play Station mengatakan tidak ada anak tersebut di sini, sesuai permintaanku. Pak Ahmad pun segera pergi. Aku pun tersenyum puas melihat itu dan melanjutkan kembali permainanku. Dua jam sudah aku bermain Play Station. Perutku sudah bergemuruh untuk segera diisi. Aku pun beranjak pergi setelah membayar jasa rental kepada penjaga rental. Sebuah sepeda motor menabrakku saat aku menyeberang jalan karena tidak melihat kiri dan kanan jalan. Ada rasa perih di kepalaku. Semua pun terasa gelap. Perlahan aku membuka mata. Ada kedua orang tuaku di ruangan ini. Selain itu, kulihat ada juga kepala sekolah, Pak Ahmad, dan juga Rizal, ketua kelas kami. Mereka belum menyadari bahwa aku sudah sadar. Aku mendengar dengan jelas suara ayahku yang sedang marah besar kepada Pak Ahmad. “ Bapak ini bagaimana menjaga siswa. Bagaimana bisa Bapak membiarkan anak saya berkeliaran di saat jam sekolah,”bentak ayahku kepada Pak Ahmad. “ Maaf Pak, Fahri saat itu izin ke WC dan ternyata dia bolos sekolah. Saya sudah berusaha mencari Fahri kemana-mana tetapi tidak menemukannya,” kata Pak Ahmad masih dengan intonasinya yang lembut. “Pak, mungkin anak saya bolos karena gak suka pelajaran Bapak.

Leave a Reply