Kamu tahu, saat kejadian kamu bolos sekolah, bagaimana susah payah Pak Ahmad mencarimu, menghawatirkanmu. Bagaimana ia tergesa-gesa ke sana kemari untuk menemukan sosokmu. Hingga sepatunya pun koyak karena perjalanan panjang mencarimu.Bahkan beliau harus mendapat caci maki dari ayahmu.” Aku terdiam. Tidak pernah terpikirkan olehku begitu Pak Ahmad berusaha sampai seperti itu mencariku. Tidak pernah terlintas dalam benakku betapa ia ternyata menghawatirkanku. Entah kenapa hatiku begitu beku menerima setiap ketulusan yang ia berikan padaku. Kenapa keangkuhanku begitu tinggi ketika ia berusaha menuntunku perlahan untuk bersama merangkai cita. Murid seperti apakah diriku yang membiarkan gurunya menetaskan airmata di netranya? Pantaskah aku masih menjadi muridnya? Kubenamkan diri dalam lamunanku di sudut teras belakang sekolah. Aku tak kuasa untuk bertemu Pak Ahmad di kelas. Kata apa yang bisa kurangkai padanya jika selama ini hanya perlakuan kasar yang selalu kuhaturkan. Sikap seperti apa yang akan kutunjukkan jika nanti bertemu dengannya jika selama ini tidak ada budi yang kutampakkan. Suara khas sepatu tua itu mendekatiku. “Fahri, kenapa kamu di sini? Ayo masuk ke kelas kita!” Aku segera menghamburkan diri ke pelukannya. Tidak ada kata yang bisa kuucapkan. Hanya tangisan sebagai bentuk kelemahan diri dalam menanggung penyesalan yang mampu tertuang.
Guruku…
Engkau memberi tanpa mengharap balas budi…
Engkau menuntun tanpa memberi tuntutan…
Engkau mencinta walau penuh air mata…
Aku masih terpaku menatap wajah itu. Dua puluh tahun berlalu sejak aku meninggalkan kota Pangkalpinang. Yah, setelah tamat SD kami sekeluarga pindah ke Jakarta. Saat perpisahan, aku memberikan Pak Ahmad sepatu baru dan meminta sepatu lamanya untuk kubawa dan kusimpan. Sepatu yang akan selalu mengingatkanku tentang ketulusan. Sepatu yang akan mengingatkanku tentang pengorbanan. Sepatu yang menjadi bukti begitu besar cintanya kepada siswanya. Sepatu yang menjadi saksi peran guru yang begitu istimewa. Ia pun menoleh menatapku. Menatap seseorang yang berdiri membawa sepatunya yang dulu. Tentu ia masih mengingat itu. Senyum tulusnya masih sama, tidak ada yang berubah. Begitu indah, lebih indah dari pelangi yang hadir setelah hujan membanjiri alam. Senyum yang tidak mengenal musim, selalu hadir saat gersang dan hujan melanda. “Fahri.” “Iya Pak. Saya Fahri. Murid bapak.”