Namun memori ternyata tak bisa diam. Ia tetap merekam setiap kata dengan penuh istimewa. Hingga kata-kata tersebut tak dapat kulepaskan dari memori, mengulang-ulang tanpa bisa dikompromi. “Fahri, ikut Bapak mengambil hasil ulanganmu ya!” Aku mengikuti Pak Ahmad dari belakang . Suara dentuman khas sepatu tuanya yang lusuh seakan membangun lirik-lirik kekalahanku. Setengah kesal tentunya kenapa Pak Ahmad hanya meninggalkan kertas ulanganku saja di mejanya. Mungkin Pak Ahmad sengaja meninggalkan hasil ulanganku di sana untuk membuatku kesal kepadanya. “Pak, kenapa hanya hasil ulanganku saja yang tertinggal di meja Bapak sedangkan hasil ulangan teman-teman lainnya tidak?”akhirnya kumuntahkan saja kemarahanku pada Pak Ahmad. “Coba lihat hasil ulangan Fahri!” Aku pun menatap lembar jawaban yang tidak ada satupun benar jawabannya. “Bayangkan saja kalau Bapak memberikannya tadi kepadamu di kelas dan teman-temanmu ada yang menertawakan hasil ulanganmu. Bapak hanya berusaha menjaga perasaanmu,” ujar Pak Ahmad masih dengan kelembutannya. Aku terdiam mencerna apa yang telah dilakukan Pak Ahmad. Ia berusaha menjaga perasaanku, perasaan seorang murid. Ia menjaga perasaan halus itu agar tidak koyak, agar tetap menemukan kepercayaan dirinya. Ia berusaha menebalkan sisi-sisi positif dari tulisan buram yang tertera pada jiwa yang dimiliki setiap siswa, menuntun agar menemukan laku bijaknya. “Kok melamun. Ayo, kita perbaiki bersama nilai itu. Bapak yakin kamu bisa. Mau belajar di mana? Di belakang sekolah, tempat favorit Fahri?” Lagi-lagi senyum itu terkadang begitu membelengguku. Ada sisi di mana aku membenci senyuman itu. Membencinya karena seakan menampar sisi-sisi keangkuhan jiwaku. Memporak-porandakan tahta yang selama ini aku jaga dan aku banggakan. “ Iya.” Jawaban singkat itu yang bisa kuberikan. Aku masih menahan dentuman hebat di hatiku. Aliran ketulusan yang begitu menyengatku. Kusiram dengan kebekuan hatikupun tak mampu memadamkannya. Ia terus memberikan aliran energinya pada tubuhku, menggetarkan sanubariku. Hingga terhampar cerita perjalanan belajarku di sudut teras belakang sekolah, bersamanya. Sudah dua bulan aku berada di kelas ini. Beragam ulahpun masih kerapkali kulakukan di kelas. Berulang kali juga Pak Ahmad menasihatiku.
Sepatu Tua Pak Ahmad
- Post author:dikbudpgk
- Post published:23 June 2023
- Post category:Tak Berkategori
- Post comments:0 Comments