Lagipula kalau misalnya ia bolos, pasti bolosnya juga gak akan jauh dari daerah sekolah. Masa gak bisa menemukannya kecuali memang benar-benar tidak dicari.” “ Maaf Om, Pak Ahmad sudah mencari Fahri ke mana-mana kok. Kami juga melihatnya. Pak Ahmad mencari dengan susah payah,” bela Rizal. “Kamu jangan ikut campur. Ini masalah orang tua,”bentak ayahku pada Rizal. Pak Ahmad menatap Rizal yang ketakutan dan meminta Rizal untuk menunggu di bangku yang ada di pojok ruangan. “ Pak, guru kami sudah berusaha untuk mencari Fahri dan tidak menemukannya,” kata Kepala Sekolah. “Jangan mencari pembenaran. Pak Kepala Sekolah, harusnya Anda tidak perlu membela guru yang salah. Dan Pak Ahmad, Bapak tidak pantas menjadi seorang guru karena tidak mampu menjaga siswanya,” ujar ayah dengan ketus sembari meninggalkan Pak Ahmad dan kepala sekolah. Harusnya aku senang dibela oleh ayah. Tapi, hatiku mendadak perih mendengar kata-kata ayah kepada Pak Ahmad. Masih jelas dalam ingatanku bagaimana paniknya Pak Ahmad mencariku saat berada di Play Station. Masih terekam netraku melihat cucuran keringat membasahi baju Pak Ahmad saat ia sampai ke rental menemui petugas rental. Masih terdengar jelas suara khas sepatu tuanya di telingaku. Masih terngiang di otakku bagaimana Pak Ahmad duduk di sampingku kala aku tertidur di belakang sekolah, mengajakku memperkenalkan diri. Jejak-jejak Pak Ahmad seketika menggelayut di pelupuk mataku, membuka lembaran-lembaran yang telah dilakukan Pak Ahmad kepadaku. Bagaimana ia mengajariku dengan sabar ketika aku tidak mengerti pelajaran. Bagaimana ia mendampingiku mengerjakan soal walalupun aku mengerjakannya dengan ogah-ogahan. Tatapan matanya yang selalu teduh, yang kini kutorehkan rasa sakit hingga butiran kristal menetes dari netranya. Kepalaku mendadak sakit dan aku pun tidak sadar kembali. Dua minggu berlalu. Aku masuk kembali ke sekolah. Kumasuki kelas dengan perasaan yang tidak biasa. Perasaan yang sulit untuk kuartikan. Antara takut, khawatir, bahagia, dan rindu. Semua bercampur aduk. “Fahri, kamu sudah masuk?Saya kira kamu gak akan masuk lagi ke kelas ini,”sambut Rizal Ketika aku memasuki kelas. “Apa maksudmu?” “Kalau bukan karena Pak Ahmad yang meminta kami untuk tetap bersikap baik kepadamu, tentu saat ini kami sudah mengusirmu dari sini.
Sepatu Tua Pak Ahmad
- Post author:dikbudpgk
- Post published:23 June 2023
- Post category:Tak Berkategori
- Post comments:0 Comments