Bagian 6 – Warna Budaya di Tengah Pelatihan
Gyeongbokgung Palace, Museum Rakyat Korea, dan Dinamika Jalanan Insadong : Pagi itu dimulai lebih awal dari biasanya. Kami berkumpul di ruang makan Incheon Global Campus pada pukul tujuh pagi untuk sarapan. Hidangan hangat yang tersaji terasa sederhana tetapi menguatkan. Ada nasi, sup rumput laut, telur dadar, dan kimchi, menu yang sudah menjadi bagian dari rutinitas kami selama di Korea. Namun, pagi ini terasa berbeda. Semangat terlihat di wajah-wajah kami karena hari ini bukan tentang diskusi atau presentasi, melainkan perjalanan budaya untuk menyelami keindahan sejarah Korea Selatan. Pukul delapan, kami menaiki bus yang akan membawa kami ke Gwanghwamun, salah satu kawasan paling ikonik di Seoul. Perjalanan dari Incheon ke Seoul memakan waktu sekitar satu setengah jam, memberikan kami kesempatan untuk menikmati pemandangan dari balik jendela. Jalan tol yang lebar membentang di antara bukit-bukit hijau, sementara gedung-gedung tinggi mulai terlihat semakin padat mendekati ibu kota. Di dalam bus, suasana penuh antisipasi. Beberapa peserta sibuk mengambil foto, sementara yang lain berbicara tentang ekspektasi mereka terhadap tempat-tempat yang akan dikunjungi. Tepat pukul sembilan tiga puluh, kami tiba di Gyeongbokgung Palace, istana terbesar dan tertua di Korea Selatan. Langkah pertama masuk ke dalam kompleks istana langsung membuatku kagum. Gerbang utama, Gwanghwamun, berdiri megah dengan arsitektur tradisional yang memancarkan keanggunan dinasti Joseon. Warna-warna cerah dari kayu yang dicat merah, hijau, dan biru berpadu indah dengan latar belakang langit biru cerah pagi itu. Saat melangkah lebih jauh ke dalam, aku merasa seolah kembali ke masa lalu, membayangkan kehidupan para raja dan ratu yang pernah tinggal di tempat ini.
Pemandu wisata kami dengan semangat menceritakan sejarah panjang Gyeongbokgung. Dibangun pada tahun 1395, istana ini adalah simbol kemegahan Dinasti Joseon yang bertahan hingga hari ini. Ia menjelaskan bahwa istana ini tidak hanya menjadi tempat tinggal keluarga kerajaan, tetapi juga pusat pemerintahan dan budaya pada masanya. Saat kami berjalan melalui aula utama, Geunjeongjeon, pemandu menunjukkan bagaimana detail ukiran dan lukisan di langit-langit aula mencerminkan kebijaksanaan dan kekuatan raja yang memerintah. Selanjutnya, kami diarahkan ke Museum Rakyat Korea yang berada di dalam kompleks istana. Museum ini menawarkan pengalaman yang mendalam tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Korea di masa lalu. Ada replika rumah tradisional, alat-alat pertanian, hingga pakaian adat yang dipajang dengan sangat rinci. Salah satu hal yang menarik perhatianku adalah diorama yang menggambarkan upacara pernikahan tradisional Korea. Semua detailnya, mulai dari pakaian pengantin hingga dekorasi, terasa hidup, seolah-olah aku sedang menyaksikan pernikahan itu secara langsung. Setelah menjelajahi museum, kami melangkah keluar menuju Gwanghwamun Square, alun-alun yang terletak tepat di depan gerbang utama istana. Di sini, patung Raja Sejong yang agung berdiri dengan gagah. Ia dikenal sebagai pencipta alfabet Korea, Hangeul, yang menjadi salah satu warisan terbesar bangsa ini. Di bawah patung ini, terdapat ruang pameran kecil yang menampilkan berbagai prestasi Raja Sejong, termasuk kontribusinya dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.