You are currently viewing MELANGKAH DI NEGERI GINSENG: CERITA DI BALIK PELATIHAN SMART GOVERNANCE – Bagian 6

MELANGKAH DI NEGERI GINSENG: CERITA DI BALIK PELATIHAN SMART GOVERNANCE – Bagian 6

Rempah yang kuat, tekstur lembut dari naan, dan rasa gurih dari dagingnya benar-benar sempurna. Suasana meja kami dipenuhi dengan suara orang yang mengunyah dalam diam, menikmati setiap suapan. Sesekali terdengar gumaman kecil dari teman-teman yang tak bisa menyembunyikan kekaguman mereka terhadap rasa makanan ini. Salah satu dari kami yang memesan shawarma tampak menikmati paduan daging yang lembut dengan saus tahini yang creamy. Di sisi lain, seorang teman yang mencoba samosa mengangguk puas, menunjukkan betapa lezatnya camilan berisi kentang berbumbu ini. Di sela-sela makan, kami saling berbincang tentang perjalanan hari ini. Dari kunjungan ke Gyeongbokgung Palace, sholat Jumat yang penuh ketenangan, hingga rencana setelah makan siang. Beberapa dari kami ingin kembali ke Myeongdong untuk melanjutkan belanja, sementara yang lain memilih untuk menikmati sore dengan berjalan santai di Itaewon. Setelah selesai makan, pelayan datang membawa segelas teh chai hangat untuk kami nikmati sebagai penutup. Aroma kayu manis dan jahe menyeruak dari cangkir. Aku menyeruput perlahan, membiarkan kehangatan minuman ini menyatu dengan udara dingin di luar. Sore di Seoul terasa lebih sempurna dengan momen-momen seperti ini— bersama teman, menikmati makanan halal yang kaya rasa di tengah negeri yang begitu jauh dari rumah. Sebelum beranjak pergi, kami menyempatkan diri berbincang sebentar dengan pemilik restoran, seorang pria paruh baya asal India yang telah menetap di Seoul selama bertahun-tahun. Ia bercerita bagaimana jumlah Muslim di Korea semakin bertambah, dan restoran halal seperti miliknya kini semakin banyak dicari. Kami mengangguk paham, karena memang di setiap sudut Itaewon, restoran-restoran halal menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Saat keluar dari restoran, matahari sudah mulai condong ke barat, memberi cahaya keemasan yang menyorot di antara gedung-gedung. Kami berjalan kembali menuju jalan utama, dengan perut yang kenyang dan hati yang bahagia. Di negeri orang, momen seperti ini terasa begitu berarti—sebuah pengingat bahwa rumah tidak selalu tentang tempat, tetapi juga tentang kehangatan yang bisa kita temukan di mana saja. Hari ini belum berakhir, masih ada petualangan lain yang menanti. Namun, satu hal yang pasti—makan siang di restoran India ini akan menjadi salah satu pengalaman yang akan terus kami ingat. Bukan hanya soal rasa makanan yang luar biasa, tetapi juga tentang bagaimana kami menemukan kebersamaan di tengah perbedaan, di satu sudut kecil di Seoul yang menyambut siapa pun dengan tangan terbuka.

Menjelajahi Insadong, Myeongdong, dan Namsan Setelah makan siang kami melanjutkan perjalana, pukul 13.30 siang, kami tiba di Insadong, salah satu kawasan paling terkenal di Seoul, untuk menikmati makan siang. Suasana Insadong terasa berbeda sejak awal. Jalan-jalan kecil yang penuh dengan toko seni tradisional, galeri, dan restoran khas Korea menyambut kami. Aroma masakan Korea yang hangat tercium dari restoran-restoran kecil di sepanjang jalan, menggoda selera setelah setengah hari menjelajahi Gyeongbokgung dan Museum Rakyat Korea. Kami diberi waktu untuk menjelajahi Insadong. Jalan utama yang dipenuhi toko-toko kecil menawarkan segalanya, mulai dari kerajinan tangan, kaligrafi, hingga teh tradisional Korea. Aku berhenti di salah satu toko yang menjual hanbok, pakaian tradisional Korea, dan mengamati detail kain berwarna cerah yang dipajang. Beberapa rekan bahkan mencoba memakai hanbok untuk berfoto. Aku sendiri lebih tertarik pada toko teh kecil di sudut jalan. Pemilik toko dengan ramah menjelaskan berbagai jenis teh yang dijualnya, mulai dari teh hijau hingga teh herbal khas Korea. Aku membeli sekotak teh ginseng, membayangkan menikmati kehangatannya saat kembali ke dormitory nanti. Pukul tiga siang, kami melanjutkan perjalanan ke Myeongdong, kawasan perbelanjaan yang menjadi surga bagi pecinta kosmetik dan makanan jalanan. Setibanya di sana, suasana berubah total. Jika Insadong menawarkan ketenangan dengan nuansa tradisional, Myeongdong adalah kebalikannya—penuh dengan energi dan hiruk-pikuk. Jalanan dipenuhi oleh toko-toko modern yang menjual berbagai merek kosmetik terkenal Korea, sementara gerobak makanan berjejer di sepanjang trotoar, menawarkan jajanan seperti tteokbokki, hotteok, dan ayam goreng khas Korea. Aku berjalan perlahan di antara keramaian, menikmati suasana yang begitu hidup. Suara pedagang yang menawarkan produk mereka bercampur dengan musik K-pop yang diputar di toko-toko. Salah satu hal yang membuatku kagum adalah bagaimana Myeongdong berhasil menjadi tempat di mana budaya modern Korea begitu terasa, tanpa kehilangan sentuhan kehangatan dari keramahan para penjualnya.

Leave a Reply