You are currently viewing MELANGKAH DI NEGERI GINSENG: CERITA DI BALIK PELATIHAN SMART GOVERNANCE – Bagian 6

MELANGKAH DI NEGERI GINSENG: CERITA DI BALIK PELATIHAN SMART GOVERNANCE – Bagian 6

Kami diberi waktu sejenak untuk menjelajahi alun-alun ini. Beberapa rekan mengambil foto, sementara aku memilih untuk duduk di bangku dan mengamati suasana sekitar. Orang-orang lokal dan turis berjalan santai, anak-anak berlari-larian di sekitar air mancur, dan seniman jalanan memainkan alat musik tradisional.Dinamika ini menghidupkan alunalun, menciptakan suasana yang damai tetapi penuh kehidupan. Menjelang tengah hari, kami berkumpul kembali di depan bus untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya. Saat bus mulai bergerak, aku menoleh ke belakang, menatap gerbang Gyeongbokgung yang semakin menjauh. Dalam hati, aku merasa bahwa kunjungan ini bukan hanya perjalanan wisata, tetapi juga pelajaran berharga tentang identitas dan kebanggaan sebuah bangsa. Korea Selatan tidak hanya menjaga sejarahnya dengan baik, tetapi juga menjadikannya bagian penting dari kehidupan modern mereka. Hari itu, aku menyadari bahwa di tengah pelatihan yang serius, pengalaman budaya seperti ini adalah napas segar yang memberikan perspektif baru. Tidak hanya tentang memahami sejarah Korea, tetapi juga tentang bagaimana budaya dapat menjadi dasar untuk membangun masa depan yang lebih baik. Gyeongbokgung Palace, Masjid Inteon, Museum Rakyat Korea, dan Gwanghwamun Square menjadi bukti bahwa keindahan masa lalu selalu relevan untuk dikenang dan dihormati.

Seoul Central Masjid: Oase Spiritual di Negeri Ginseng Panasnya siang Seoul terasa menyengat ketika langkah kaki kami menapaki trotoar menuju Seoul Central Masjid untuk menunaikan kewajiban Sholat Jumat di negeri ginseng. Setelah menjelajahi megahnya Gyeongbokgung Palace, kini saatnya mengistirahatkan jiwa dalam sujud di rumah Allah yang berdiri kokoh di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan ini. Waktu menunjukkan pukul 11.00 siang ketika kami tiba di kompleks masjid. Dari kejauhan, bangunan dengan aksen mozaik biru khas Timur Tengah itu sudah tampak megah, menjulang di antara gedunggedung modern yang mengelilinginya. Masjid ini adalah masjid pertama dan terbesar di Korea Selatan, menjadi pusat ibadah bagi umat Muslim dari berbagai latar belakang. Sejak diresmikan pada tahun 1976, Seoul Central Masjid telah menjadi simbol keberagaman dan kedamaian bagi komunitas Muslim di negeri yang mayoritas penduduknya non-Muslim ini. Menariknya, masjid ini tidak hanya dikunjungi oleh umat Muslim, tetapi juga oleh wisatawan yang ingin mengenal Islam lebih dekat. Kami melewati gerbang biru dengan tulisan kaligrafi Arab yang menghiasi bagian atasnya. Anak tangga panjang yang mengarah ke pintu utama terasa seperti pengingat bahwa mendekat kepada Tuhan memang butuh usaha. Beberapa Muslim dari berbagai negara terlihat naik dan turun, menampakkan keberagaman yang luar biasa. Ada yang mengenakan jubah panjang, ada pula yang berpakaian kasual, menunjukkan bahwa Islam di sini melintasi batas geografis dan budaya. Begitu memasuki area dalam, suasana langsung berubah. Gemuruh jalanan Seoul yang sibuk seolah menghilang, berganti dengan ketenangan yang menyejukkan hati. Langit-langit tinggi dengan kubah besar dihiasi ukiran kaligrafi yang indah, sementara dinding-dindingnya didominasi oleh pola mozaik biru-putih khas arsitektur Turki. Karpet hijau terbentang rapi di seluruh ruangan, siap menyambut setiap dahi yang bersujud. Sebelum adzan berkumandang, kami mengambil wudhu di tempat yang telah disediakan. Air yang mengalir membasuh tangan dan wajah kami membawa kesegaran, seolah membersihkan debu perjalanan sebelumnya.

Leave a Reply