Aroma sajadah yang khas menyatu dengan wangi kayu dari mimbar di bagian depan, menciptakan suasana yang begitu syahdu. Ketika adzan berkumandang, seluruh jamaah langsung bersiap. Suara imam terdengar lantang dan jelas, menyeru panggilan sholat dengan irama yang khas Timur Tengah. Ratusan Muslim dari berbagai penjuru dunia— dari Timur Tengah, Asia Tenggara, hingga Afrika—berdiri sejajar dalam satu shaf, menunjukkan bahwa dalam sujud, tak ada perbedaan ras, suku, atau kewarganegaraan. Khutbah Jumat dimulai, disampaikan dalam Bahasa Arab dengan terjemahan Bahasa Korea yang ditampilkan di layar di samping mimbar. Sang imam, seorang pria dengan berwajah klimis dan berkacamata serta wajah khas Timur Tengah, berbicara dengan penuh wibawa. Sesekali ia menundukkan kepala, menyampaikan pesan-pesan hikmah yang menyentuh hati. Aku tak sepenuhnya memahami setiap kata yang diucapkannya, tetapi intonasinya yang penuh makna cukup untuk menggugah hati. Saat sholat dimulai, suasana semakin khidmat. Tak ada suara selain lantunan ayat-ayat suci yang menggema di dalam ruangan. Ketika imam melafalkan surat panjang dalam rakaat pertama, aku merasakan ketenangan yang sulit dijelaskan. Di negeri yang begitu jauh dari rumah, aku menemukan tempat di mana aku merasa benar-benar diterima, benarbenar “pulang”. Setelah sholat selesai, kami duduk sejenak, menikmati ketenangan masjid ini. Beberapa jamaah tampak masih berzikir, sementara yang lain berbincang santai dengan sesama Muslim yang baru mereka temui. Aku pun sempat berkenalan dengan seorang Muslim asal Uzbekistan yang telah lama menetap di Korea. Ia bercerita bagaimana komunitas Muslim di sini semakin berkembang dan mendapat tempat di tengah masyarakat Korea yang mayoritas non-Muslim. Sebelum meninggalkan masjid, kami menyempatkan diri berfoto di halaman depan. Pemandangan Seoul yang kontras—antara bangunan modern dan masjid dengan sentuhan arsitektur Islam—terlihat begitu unik. Tak jauh dari masjid, terdapat beberapa restoran halal yang menjajakan makanan khas Timur Tengah dan Asia Selatan, menjadi bukti bahwa Islam terus tumbuh di negeri ini. Seoul Central Masjid bukan sekadar tempat ibadah. Ia adalah oase spiritual di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota, menjadi tempat bertemunya berbagai budaya dalam satu keyakinan. Hari itu, kami tidak hanya melaksanakan sholat Jumat, tetapi juga mendapatkan pengalaman spiritual yang tak terlupakan—sebuah bukti bahwa di mana pun kita berada, Allah selalu menyediakan tempat untuk kembali.Santapan Halal di Seoul: Menyatukan Jiwa di Jantung Itaewon Setelah melaksanakan sholat Jumat di Seoul Central Masjid, kami melangkah keluar dari area masjid dengan perasaan yang lebih tenang dan lapang. Udara siang di Itaewon masih terasa sejuk, meskipun matahari mulai naik ke puncaknya. Perut yang sejak tadi kosong mulai memberikan sinyal bahwa sudah saatnya mengisi energi. Tak perlu berpikir lama, kami memutuskan untuk makan siang di salah satu restoran India yang terletak tak jauh dari masjid. Wilayah Itaewon memang dikenal sebagai kawasan yang ramah bagi para Muslim. Di sepanjang jalan, berbagai restoran halal berjajar rapi, menawarkan hidangan khas dari berbagai belahan dunia—dari masakan Timur Tengah, Asia Selatan, hingga Turki. Kami berjalan santai di trotoar yang cukup ramai, sesekali melewati wisatawan lain yang juga sedang mencari tempat makan. Bau rempah yang khas mulai tercium saat kami semakin dekat dengan restoran yang kami tuju. Begitu pintu restoran terbuka, aroma karamelisasi daging panggang, rempah-rempah khas India, dan roti naan yang baru keluar dari oven langsung menyerbu indra penciuman kami. Kami melihat sekeliling—interior restoran ini sederhana, dengan nuansa kayu dan lampu-lampu gantung yang memberikan kesan hangat. Dindingnya dihiasi ornamen-ornamen khas India dan Timur Tengah, membuat kami seakan melangkah ke dunia yang berbeda dari gemerlap Seoul yang modern. Kami memilih meja di sudut ruangan yang cukup luas untuk menampung semua rombongan. Pelayan, seorang pria dengan aksen khas India, menyapa kami dengan ramah sambil menyodorkan menu. Pilihan makanan di restoran ini begitu menggoda—biryani, keBagian, tandoori chicken, hummus, falafel, dan berbagai jenis kari yang kaya akan rempah. Tidak butuh waktu lama bagi kami untuk memesan. Beberapa memilih chicken biryani, yang dikenal dengan perpaduan nasi basmati yang harum dengan ayam berbumbu kaya, sementara yang lain lebih tertarik dengan lamb keBagian yang terkenal empuk dan beraroma kuat. Tak lama, makanan kami datang. Hidangan-hidangan berwarnawarni tersaji di atas meja, menggugah selera siapa pun yang melihatnya. Aku mengambil sepotong roti naan yang masih panas, mencelupkannya ke dalam kuah kari kental yang penuh dengan aroma jintan dan kapulaga. Gigitan pertama langsung membuat lidah ini menari.
MELANGKAH DI NEGERI GINSENG: CERITA DI BALIK PELATIHAN SMART GOVERNANCE – Bagian 6
- Post author:dikbudpgk
- Post published:25 February 2025
- Post category:Timah-GTK
- Post comments:0 Comments