Aku membayangkan bagaimana perjalanan ini telah membawaku ke negeri ginseng ini, menghadapkan aku pada budaya yang berbeda, aturan yang lebih ketat, bahkan dalam hal-hal kecil seperti kebiasaan merokok. Ada tantangan dalam setiap langkah, ada batasan yang harus dihormati, dan ada adaptasi yang harus dilakukan. Aku menyeringai kecil, mengingat bagaimana aku harus menahan diri beberapa kali karena tidak menemukan tempat yang layak untuk merokok. Tidak seperti di Indonesia, di mana warung kopi atau pojokan kampus selalu menyediakan ruang bagi mereka yang ingin menikmati kepulan asap sambil berbincang santai. Di sini, aku harus memilih waktu dan tempat dengan lebih bijak, memastikan tidak ada pelanggaran terhadap aturan yang bisa mengundang masalah. Asap terakhir kuhembuskan, menari-nari dalam udara malam yang dingin. Aku menatap puntung rokok yang hampir habis, menyadari bahwa ini adalah salah satu batang terakhir yang kubawa dari rumah. Rasanya aneh, sebatang rokok bisa membawa begitu banyak refleksi. Aku tersenyum sendiri, menekan puntung itu ke asbak logam di sampingku, sebelum akhirnya berbalik, melangkah kembali ke dalam dormitory. Malam ini masih panjang, dan perjalanan ini masih jauh dari selesai. Mungkin, seperti rokok yang kusesap tadi, aku harus menikmati setiap detik perjalanan ini perlahan, membiarkan semua pengalaman meresap sebelum akhirnya kupahami sepenuhnya. Aku kembali ke kamar dengan hati yang penuh rasa syukur. Hari ini adalah salah satu hari yang tak akan terlupakan, hari di mana aku belajar bahwa ilmu tidak hanya bisa ditemukan di dalam buku, tetapi juga dalam perjalanan, dalam pertemuan, dan dalam percakapan sederhana di meja makan. Dan aku tahu, setiap langkah yang kuambil di negeri ini akan menjadi bagian dari cerita yang lebih besar, cerita tentang belajar, tumbuh, dan bermimpi.
Bersambung…