You are currently viewing MELANGKAH DI NEGERI GINSENG: CERITA DI BALIK PELATIHAN SMART GOVERNANCE – Bagian 4

MELANGKAH DI NEGERI GINSENG: CERITA DI BALIK PELATIHAN SMART GOVERNANCE – Bagian 4

Menghisap Kebebasan di Negeri dengan Aturan Ketat

Malam itu setelah selesai mandi aku keluar kamar untuk menghisap rokokku. Udara malam di Songdo terasa lebih dingin dari biasanya. Aku berdiri di sudut kecil dekat dormitory, membiarkan angin sejuk Korea menyapu wajahku. Dengan tangan yang sedikit menggigil, aku merogoh saku jaket, mengeluarkan sebungkus Sampoerna Mild Menthol yang sengaja kubawa jauh-jauh dari Indonesia. Rokok ini bukan sekadar kebiasaan, tapi lebih seperti ritual kecil yang selalu menemani pikiranku berkelana, memberi ruang bagi refleksi di sela-sela kesibukan. Korea bukan tempat yang ramah bagi perokok. Aturan di sini ketat, bahkan untuk sekadar mencari tempat merokok pun seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Beberapa kali aku mendapati tatapan tidak nyaman dari orang-orang saat mereka melihat seseorang menghisap rokok di tempat terbuka. Berbeda dengan di Indonesia, di mana rokok bisa dinikmati nyaris di mana saja, di sini aku harus mencari tempat khusus, sering kali tersembunyi di balik gedung atau pojokan jalan. Kutarik sebatang dari bungkusnya, menggulirkannya di antara jari, sebelum akhirnya menyalakan api dan menarik napas dalam-dalam. Sensasi mentol yang segar langsung menyelinap ke paru-paru, bercampur dengan udara dingin yang menyeruak. Aku menutup mata sejenak, membiarkan rasa itu mengalir, membaur bersama suasana malam yang sunyi. Hanya ada lampu-lampu kota yang berpendar di kejauhan dan sesekali langkah kaki pejalan yang melintas. Di antara asap tipis yang mengepul, pikiranku kembali ke hari-hari yang telah kulalui di Korea. Program pelatihan, pertemuan dengan akademisi dan profesional dari berbagai negara, serta diskusi tentang Smart Governance yang membuka wawasan. Semua itu masih seperti pusaran angin di dalam kepala, begitu cepat, begitu banyak, hingga sulit dicerna sekaligus. Rasanya seperti mengunyah informasi tanpa benarbenar menelannya, dan di sinilah aku, menghembuskan asap terakhir sembari mencoba memahami semuanya. Rokok di tanganku terus menyala perlahan, ujungnya membara dalam temaram cahaya lampu.

Leave a Reply