Perjalanan Kembali: Sebuah Akhir yang Menjadi Awal Pukul 13.30 waktu Korea, pesawat Korean Air yang kami tumpangi mulai bergerak perlahan di landasan pacu Bandara Incheon. Dari jendela pesawat, aku menatap ke luar, melihat pesawat-pesawat lain berjejer, beberapa bersiap lepas landas, sementara yang lain baru saja tiba. Ada sesuatu yang melankolis dalam perasaan ini—sebuah perpisahan yang terasa seperti sebuah awal yang baru. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mengabadikan momen ini dalam ingatan. Saat pesawat mulai melaju dengan kecepatan penuh, aku menggenggam sandaran kursi. Detik berikutnya, roda pesawat mulai terangkat, meninggalkan tanah Korea Selatan. Sensasi itu selalu sama— sedikit tekanan di dada, suara mesin yang bergemuruh, lalu tiba-tiba dunia di luar jendela berubah. Gedung-gedung dan jalanan perlahan mengecil, berganti dengan awan-awan putih yang menggantung di langit biru. Aku bersandar di kursi, membiarkan tubuhku rileks, sementara pikiranku melayang ke hari-hari terakhir di negeri ginseng ini. Beberapa menit setelah lepas landas, awak kabin mulai berjalan di lorong pesawat, memastikan semua penumpang nyaman. Aku melirik layar kecil di depanku, menampilkan informasi penerbangan. Perjalanan ini akan memakan waktu sekitar tujuh jam, membawa kami melintasi lautan luas dan zona waktu, kembali ke tempat di mana semua ini bermula. Aku meraih headphone dan memasangnya di telinga, mencoba menenangkan diri dengan alunan musik yang lembut. Ketika hidangan pertama mulai disajikan, aku menatap nampan yang diletakkan di hadapanku. Nasi, lauk pauk khas Korea, roti, dan sepotong buah tersaji rapi. Aku mengambil sendok, lalu menyantapnya perlahan. Makanan ini mungkin bukan yang terbaik, tetapi di tengah perjalanan panjang ini, ia terasa cukup menghibur. Sambil makan, aku melirik rekan-rekan yang duduk di sekitar. Beberapa masih tenggelam dalam tidurnya, sementara yang lain menikmati film yang diputar di layar pribadi mereka. Setelah makan, aku kembali menatap jendela. Langit mulai berubah warna, dari biru cerah menjadi jingga keemasan. Matahari mulai condong ke barat, menandakan bahwa waktu terus bergerak maju. Aku menyadari betapa cepatnya hari-hari berlalu.