
Di Langit dan Tanah Incheon: Pengalaman Pertama,
Langit Jakarta sore itu begitu temaram, seperti memberi salamperpisahan yang hangat. Bersama 42 orang lainnya, aku berjalan menuju gate keberangkatan dengan koper yang penuh harapan. Boarding gate dipenuhi percakapan pelan, tas-tas yang ditata ulang, dan senyum hangatyang mencoba menyembunyikan rasa lelah sekaligus antusias. Penerbangan kami menuju Korea Selatan akan dimulai dengan pesawat Thai Airways TG 436, berangkat pukul 18.20 WIB menuju Bangkok. Duduk di kursi 46C, aku menyadari bahwa perjalanan ini lebih dari sekadar melintasi batas negara—ini adalah langkah besar menuju mimpi yang telah lama terpendam. Di dalam pesawat, aku melirik ke sekeliling. Wajah wajah yang duduk di barisan kursi terlihat penuh semangat. Beberapa sibuk mengamankan koper di kabin atas, sementara lainnya asyik berbicara satu sama lain. Merasa cukup nyaman dengan ruang yang tersedia. Cahaya kabin yang redup berpadu dengan warna ungu lembut interior Thai Airways, menciptakan suasana yang menenangkan. Deru mesin pesawat perlahan mengisi ruang kabin, menggantikan suara-suara kecil percakapan di antara kami. Saat roda pesawat terangkat dari landasan, aku memejamkan mata, mencoba merekam momen ini di ingatan. Hidangan makan malam tiba beberapa saat setelah pesawat mengudara. Sosis panggang, kacang panggang, potongan roti lembut, dan sebotol air mineral sederhana namun memuaskan. Semua terasa cukup untuk menjaga energi hingga kami tiba di Bangkok. Sambil menikmatihidangan, aku mengintip layar kecil di depan kursiku, memantau peta penerbangan yang menunjukkan jalur pesawat melintasi lautan gelap. Dua jam kemudian, kami mendarat di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok. Transit. Waktu berlalu begitu cepat, tak lebih dari sebuah jeda untuk menarik napas panjang sebelum penerbangan berikutnya. Di boarding gate berikutnya, udara Bangkok terasa berbeda. Ada kehangatan tropis yang samar-samar mengingatkan pada kampung halaman, tapi aku tahu, ini hanyalah persinggahan singkat. Transit di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok, menjadi jeda singkat sebelum perjalanan dilanjutkan. Suasana di area transfer terasa hidup dengan para pelancong yang berjalan cepat di bawah lampu neon. Gate 9 menjadi tempat kami berkumpul, menunggu penerbangan berikutnya. Beberapa rekan seperjalanan memanfaatkan waktu untuk mengambil foto bersama papan gate, senyuman mereka merekam kegembiraan yang sulit ditahan. Pesawat Thai Airways TG 656 menanti menuju Seoul, dengan jadwal boarding pukul 22.50 waktu setempat. Kali ini, aku duduk di 45C. Kabin terasa lebih hening dibandingkan penerbangan pertama, karena semua mencoba memanfaatkan waktu untuk beristirahat, mungkin karena penumpangnya lebih lelah atau tenggelam dalam pikiran mereka masingmasing. Di luar jendela, hanya gelap pekat yang menemani, tapi di dalam hati, aku tahu, cahaya semangat kami terus menyala. Perjalanan Bangkok-Seoul memakan waktu sekitar lima jam. Langit malam di luar jendela begitu gelap, tetapi di dalam hatiku, semangat itu terus menyala. Tidur hanya sesekali menghampiri. Sebagian besar waktuku dihabiskan dengan menatap layar kecil di depanku, mencoba mengalihkan pikiran dari rasa tak sabar untuk segera tiba. Ketika akhirnya pesawat menyentuh landasan Bandara Incheon, matahari pagi menyambut kami dengan lembut. Jam menunjukkan pukul 06.30 waktu Korea Selatan. Di luar, udara dingin menyelinap masuk melalui celah pintu kabin yang mulai terbuka. Langkah pertama di negeri orang ini terasa berbeda, seperti sebuah awal yang menjanjikan. Di pintu keluar kabin, kami menyempatkan diri mengambil beberapa foto untuk mengabadikan momen. Senyum cerah di wajah setiap orang menjadi bukti semangat yang tak terelakkan untuk memulai petualangan ini. Langkahpertama di negeri orang ini bukan hanya tentang menginjakkan kaki di tanah asing, melainkan tentang membuka Bagianak baru dari perjalanankehidupan kami. Aku menatap langit cerah Incheon, menarik napas panjang. “Inilah dia,” gumamku pelan, setengah kepada diri sendiri, setengah kepada mimpi-mimpi yang kini terasa begitu dekat. Sebuah perjalanan baru dimulai, dan aku tahu, setiap langkah di negeri ini akan meninggalkan jejak yang tak terlupakan
bersambung….