Awal Perjalanan: Menapaki Program Pelatihan Internasional,
Langit siang itu di Jakarta seakan menahan napas, berat melepaskan kepergianku.Lampu-lampu di Bandara Soekarno-HaOa berkelap-kelip, seperti sepasang mata yang terus memperhatikan langkahku menuju gerbang keberangkatan. Ada rasa haru yang menggantung di udara, bercampur dengan semangat yang berkobar di dada. Aku melangkah pelan, membawa koper yang isinya bukan hanya pakaian, tapi juga segenap mimpi dan asa tentang masa depan. Korea Selatan. Nama itu terngiang seperti nada lagu yang tak hentihentidiputar di kepala. Sebuah negeri yang selama ini hanya kukenal lewat drama, musik, dan berita tentang kemajuan teknologinya. Kini, aku akan berdiri di atas tanahnya, menyerap segala ilmu yang ditawarkan dalamprogram International Training Program for Smart Governance and Policy Capacity Building.Di ruang tunggu keberangkatan, tatapanku menyapu wajah-wajah sesama peserta dari berbagai instansi. Ada yang sibuk mengetik di laptop, mungkin menyelesaikan pekerjaan terakhir sebelum pesawat lepas landas. Ada yang tenggelam dalam buku catatan, memeriksa ulang persiapanmereka. Aku sendiri hanya duduk diam, mendengarkan debar jantungyang seirama dengan deru pesawat yang baru saja mendarat di landasan.“Siap terbang, Pak?” tanya seorang rekan dari seberang kursi. Akutersenyum, sekadar mengangguk. Jujur, aku belum siap sepenuhnya. Tapi bukankah hidup seringkali seperti ini? Kita melangkah dengan segala ketidaksiapan, berharap di sepanjang perjalanan, jawaban dan keberanian akan datang dengan sendirinya. Pesawat akhirnya bergerak di landasan. Ketika roda-roda itu terangkat dari bumi, rasanya seperti memutuskan ikatan dengan segala rutinitas yang selama ini menahan langkahku. Di dalam gelap kabin, aku menatap jendela. Jakarta perlahan mengecil, hanya menyisakan kilauan cahaya yang menyerupai bintang-bintang. “Aku akan kembali,” bisikku pada diri sendiri. Tapi kali ini, aku berjanji akan membawa sesuatu yang lebih besar—ilmu, pengalaman, dan cerita yang layak untuk dibagikan kepada dunia. Dan di saat itulah, aku tahu, petualangan ini baru saja dimulai.
Persiapan Terbang: Dari Dokumen Hingga Perlengkapan,
Ada sesuatu yang istimewa dalam suara pagi itu. Detik jam berdetak lebih lambat dari biasanya, seolah memberi ruang bagi pikiranku untukberputar-putar di tengah tumpukan koper, paspor, dan dokumen perjalanan. Di meja ruang tamu, lembaran tiket pesawat tergeletak seperti janji yang siap ditepati. Ke Korea Selatan, pikirku, sebuah tujuan yang selama ini hanya hidup dalam angan-angan. Proses mengurus dokumen seakan menjadi perjalanan kecil tersendiri. Aku masih ingat hari-hari menunggu antrean panjang di kantorimigrasi, rasa khawatir saat melampirkan semua persyaratan, hingga kelegaan sederhana ketika visa akhirnya menempel rapi di paspor. Itu bukan sekadar cap di halaman dokumen; itu adalah tiket menuju mimpi yang mulai menjadi nyata. Dan koper itu, oh, betapa penuh isinya. Di sela pakaian formal untuk acara pembukaan dan setelan jas yang tampak gagah, aku menyelipkan baju olahraga, sepatu jalan, bahkan payung kecil—sudah diperingatkan bahwa musim penghujan di Korea tidak akan memberi ampun. Rasanya seperti menyiapkan senjata untuk menghadapi medan perang, hanya saja perangnya kali ini adalah melawan waktu, pengetahuan, dan diri sendiri.Di sudut kamar, aku menyempatkan diri membuka peta Korea Selatan di layar laptop. Mataku menelusuri nama-nama yang terdengar asing namun penuh pesona: Incheon, Songdo, Gwanghwamun. Di sela peta itu, aku tersenyum kecil. “Tunggu aku datang,” gumamku, seolah berbicara dengan negeri yang sebentar lagi akan kugapai. Dan begitulah, persiapan ini bukan sekadar memasukkan barang ke dalam koper. Lebih dari itu, ini adalah proses membungkus semangat,harapan, dan keberanian yang akan kubawa sebagai bekal selama di sana. Semua sudah siap—atau setidaknya, itulah yang kuyakinkan pada diriku sendiri. SeBagian, petualangan terbaik selalu dimulai dengan rasa ragu, tapi diselesaikan dengan keyakinan penuh.
