
Contoh kecil yang diberikan kepada anak seperti budaya antri,bersalaman dengan guru di waktu pagi ketika masuk gerbang sekolah, menaati aturan sekolah,kebersihan membuang sampah pada tempatnya sebagai prilaku yang berdampak kepada pembentukan karakter. Motivasi internal seperti ini akan berdampak lebih lama dan membuat anak semakin kuat karakter baik dalam pribadinya. Hal tersebut sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang mengungkapkan bahwa disiplin kepada anak adalah disiplin diri,sebab hanya diri sendiri yang mampu mengontrol diri. Penerapan disiplin positif terlaksana bukan keterpaksaan,akan tetapi anak didik sendirilah yang akan menginginkan dirinya menaati peraturan sesuai dengan apa yang dilihat dan nyata pada sekolahnya.
Upaya untuk mewujudkan kedisiplinan diri pada diri anak dapat terjadi apabila guru-guru disekolahnya dapat menempatkan diri sebagaimana mestinya, menjadi guru yang dapat digugu dan ditiru baik itu prilaku atau tindakan dari guru akan membentuk sikap yang dapat mencermin kebaikan pada diri anak,tentunya hanya didapatkan melalui budaya positif yang di terapkan di sekolah. Budaya positif juga dapat berupa tata tertib sekolah dan peraturan kesepakatan kelas sesuai dengan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan adalah tempat menyemai benih kebudayaan,sehingga sekolah sebagai tempat yang nyaman dan aman bagi anak didik untuk membangun jiwa patriotik,bersih lahir bathin serta berakhlak mulia. Pembudayaan karakter melalui pembiasaan baik ini sejatinya akan mampu menumbuhkan manusia-manusia terbaik yang berpegang pada nilai-nilai keyakinan yang memiliki kemerdekaan jiwa,bukan hanya membentuk generasi yang patuh karena tekanan dan aturan.