“Kita membeli bukan karena perlu, tapi karena takut terlihat tidak cukup.”
Oleh: Dr. Erwandy, SE., MM – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pangkalpinang
Ada seorang bapak. Di suatu pagi selepas salat Idulfitri, ia duduk di teras rumah kontrakan mungilnya, menyeruput kopi hitam yang mulai dingin. Di tangannya, setumpuk struk belanja dari swalayan, toko baju, toko mainan anak, dan satu dua hampers online. Ia mengelus dada. Wajah anak-anaknya memang bahagia pagi itu—mengenakan baju baru, tersenyum dengan kue-kue kering di meja, dan bersalaman dengan penuh suka cita. Tapi di hatinya, kosong. Ia tahu: THR-nya habis. Bahkan, gaji bulan depan sudah dipakai lebih dulu.
Inilah realita yang menampar diam-diam. Momen yang seharusnya menjadi perayaan spiritual, berubah menjadi tekanan sosial. Idulfitri tidak lagi sesederhana maaf dan peluk. Ia kini dikemas dalam balutan kebutuhan artifisial: fashion kekinian, hampers mewah, hingga dekorasi rumah yang “instagramable”. Semua demi tampil di atas standar sosial yang diam diam memenjarakan.
Fenomena ini bukan tanpa data. Perputaran uang pada momen Lebaran setiap tahunnya bisa mencapai ratusan triliun rupiah. Namun, pertanyaannya, apakah perputaran ini menciptakan nilai tambah bagi kesejahteraan? Atau justru menjadi pemicu lubang finansial baru? Banyak keluarga, tanpa sadar, terjebak dalam jebakan gengsi dan impulsivitas—berbelanja tak lagi berdasar kebutuhan, melainkan karena “tak enak” jika tidak terlihat sama dengan yang lain.
THR, yang seyogianya menjadi berkah tahunan, justru kerap menjadi bumerang. Ia datang seperti hujan deras, namun hilang seperti embun pagi. Tanpa rencana, tanpa rem. Kita lupa bahwa rezeki tak hanya untuk hari ini, tapi juga esok yang belum pasti. Tidak sedikit orang yang habis-habisan di awal Syawal, lalu kelimpungan di minggu kedua karena semua sudah ludes. Sementara kebutuhan hidup tetap berjalan, dan tahun ajaran baru anak menanti di depan mata.