Aku teringat percakapan dengan salah satu staf di Seoul Sky Tower yang begitu tertarik mendengar tentang Indonesia. Dengan senyumnya yang ramah, ia mengatakan bahwa ia percaya kolaborasi lintas budaya adalah cara terbaik untuk memahami dunia dan menciptakan masa depan yang lebih baik. Korea Selatan juga menunjukkan bahwa keterbukaan ini membutuhkan kepercayaan—kepercayaan pada teknologi, pada mitra kerja, dan pada masyarakat. Misalnya, dalam penggunaan data besar (big data) untuk kebijakan publik, mereka dengan cerdas menjaga transparansi dan akuntabilitas. Mereka menyadari bahwa tanpa kepercayaan masyarakat, teknologi secanggih apa pun tidak akan efektif. Hal ini memberikan inspirasi bahwa inovasi dan keterbukaan harus berjalan seiring dengan integritas. Lebih jauh lagi, keterbukaan Korea ini terasa seperti strategi jangka panjang. Mereka tidak hanya fokus pada hasil instan tetapi juga membangun hubungan yang berkelanjutan. Kunjungan ke Samsung Electronics dan Lotte World Tower memberikan gambaran bagaimana perusahaan-perusahaan besar Korea Selatan memahami pentingnya membangun ekosistem global. Mereka tidak hanya mengutamakan keuntungan, tetapi juga hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan dengan mitra internasional mereka. Dari semua pengalaman ini, aku menyadari bahwa keterbukaan Korea bukan sekadar strategi, melainkan sebuah budaya. Budaya ini tercermin dalam cara mereka melihat dunia—bukan sebagai persaingan, tetapi sebagai peluang untuk bekerja bersama. Mereka percaya bahwa setiap pihak memiliki sesuatu yang berharga untuk ditawarkan, dan kolaborasi adalah cara untuk menggabungkan keunggulan tersebut. Budaya ini memberi Korea Selatan keunggulan kompetitif yang sulit disaingi. Saat akhirnya kami kembali ke dormitory malam itu, aku menyadari bahwa inspirasi dari keterbukaan Korea bukan hanya tentang bagaimana mereka membangun negara mereka, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa belajar dari mereka. Keterbukaan untuk berkolaborasi adalah pelajaran besar yang bisa diterapkan di mana saja, termasuk di negaraku sendiri. Jika Korea bisa menciptakan harmoni antara inovasi, teknologi, dan kolaborasi, mengapa kita tidak? Dan malam itu, aku menuliskan di jurnal kecilku sebuah catatan sederhana: “Keterbukaan adalah kunci kemajuan. Sebuah pintu kecil yang, jika kita berani membukanya, dapat membawa kita ke ruang yang penuh kemungkinan.” Dengan semangat itu, aku tahu bahwa perjalanan ini tidak hanya mengubah pandanganku tentang Korea Selatan, tetapi juga tentang dunia dan masa depan yang bisa kita ciptakan bersama.
