You are currently viewing MELANGKAH DI NEGERI GINSENG: CERITA DI BALIK PELATIHAN SMART GOVERNANCE – Bagian 5

MELANGKAH DI NEGERI GINSENG: CERITA DI BALIK PELATIHAN SMART GOVERNANCE – Bagian 5

Langkah di Senja: Perjalanan Pulang ke Dormitory Pukul lima sore, langkah kami meninggalkan gedung kampus terasa lebih ringan setelah melewati hari yang penuh dengan diskusi, ide, dan pembelajaran mendalam. Kami semua keluar dari ruang konferensi dengan wajah yang mencerminkan kelegaan, tetapi juga kebanggaan. Udara sore Incheon menyapa dengan kelembutan, seolah menjadi jeda yang manis setelah hari yang penuh dengan ide-ide besar dan wawasan mendalam. Udara sore di kawasan Yonsei University Songdo Campus begitu segar, ditemani angin lembut yang berhembus dari arah pepohonan yang rindang. Kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju dormitory, jaraknya tidak jauh, hanya sekitar satu kilometer. Namun, perjalanan ini terasa lebih dari sekadar jarak; ia menjadi waktu untuk merenung, menyerap semua pengalaman yang telah terjadi hari ini. Langit Incheon mulai berubah warna, berganti dari biru terang menjadi jingga kemerahan. Semburat senja yang hangat melukis pemandangan di sepanjang jalan. Pohon-pohon berjajar rapi di tepi trotoar, menciptakan bayangan memanjang di atas aspal yang bersih. Suara langkah kaki kami berpadu dengan kicauan burung yang bersiap untuk kembali ke sarangnya. Suasananya begitu damai, seolah-olah seluruh dunia sedang memberi waktu kepada kami untuk bernapas sejenak. Kami berjalan berkelompok, beberapa orang berbincang ringan tentang hasil diskusi tadi, sementara yang lain memilih diam, larut dalam pikirannya sendiri. Aku sendiri berada di tengah-tengah. Sesekali aku mendengarkan pembicaraan rekan-rekan di sekitar, tetapi lebih sering mataku menatap ke jalanan, pikiranku sibuk merenungkan banyak hal. Hari ini terasa seperti hari yang luar biasa, penuh dengan pelajaran dan inspirasi. Di sepanjang perjalanan, aku melihat bagaimana kawasan kampus ini dirancang dengan begitu indah dan teratur. Jalan setapak yang kami lalui dilengkapi dengan lampu-lampu kecil yang mulai menyala, memberi pencahayaan lembut saat senja semakin pudar. Beberapa mahasiswa lokal terlihat melintas, membawa buku atau laptop mereka, mungkin baru selesai dari kelas atau menuju perpustakaan. Mereka tersenyum ramah saat melewati kami, sebuah sapaan sederhana yang membuatku merasa diterima meski berada jauh dari rumah. Angin sore terus berhembus, membawa aroma dedaunan segar dan sedikit garam dari laut yang tidak terlalu jauh. Aku menarik napas dalam, membiarkan udara dingin masuk ke paru-paru. Rasanya seperti membersihkan kelelahan setelah sehari penuh belajar. Dalam hati, aku merasa bersyukur atas kesempatan ini—kesempatan untuk berada di tempat yang begitu jauh dari rumah, tetapi membawa begitu banyak manfaat.

Leave a Reply